<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Good Info &#187; Emosi</title>
	<atom:link href="http://goodinfo.tk/tag/emosi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://goodinfo.tk</link>
	<description>News Yang Beneran New</description>
	<lastBuildDate>Thu, 10 Nov 2011 05:54:49 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Supaya Anak Tidak Takut Dokter</title>
		<link>http://goodinfo.tk/supaya-anak-tidak-takut-dokter/</link>
		<comments>http://goodinfo.tk/supaya-anak-tidak-takut-dokter/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Feb 2011 06:22:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Family]]></category>
		<category><![CDATA[Health]]></category>
		<category><![CDATA[Psychology]]></category>
		<category><![CDATA[Child]]></category>
		<category><![CDATA[Emosi]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://goodinfo.tk/?p=310</guid>
		<description><![CDATA[Dalam tumbuh kembang anak pasti ada saat dimana anak mengalami penurunan kesehatan atau sakit. Ini merupakan saat dimana perhatian orang tua diperlukan oleh anak.  Di saat inilah sebagian besar orang tua meresponnya dengan membawa buah hatinya ke dokter. Namun seringkali seorang anak  tidak semudah seperti orang dewasa apabila di ajak ke dokter untuk berobat atau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft" title="dokter" src="http://i759.photobucket.com/albums/xx236/rwarih/Website/doctor.jpg" alt="" width="157" height="157" />Dalam tumbuh kembang anak pasti ada saat dimana anak mengalami penurunan kesehatan atau sakit. Ini merupakan saat dimana perhatian orang tua diperlukan oleh anak.  Di saat inilah sebagian besar orang tua  meresponnya dengan membawa buah hatinya ke dokter.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun seringkali seorang anak  tidak semudah seperti orang dewasa apabila di  ajak ke dokter untuk berobat atau sekedar memeriksaakan kondisi  kesehatannya. Hal ini dikarenakan si buah hati merasa takut berobat atau  bertemu dengan dokter.</p>
<h3 style="text-align: justify;"><strong>Mengapa Hal ini terjadi?<span id="more-310"></span></strong></h3>
<p style="text-align: justify;">Sebenarnya ini sangat wajar karena rasa takut ini merupaka respon alamiah  terhadap sesuatu yang dianggap berbahaya buat dirinya. Pada kasus  ketakutan pada anak biasanya pada hal-hal tertentu, misalnya takut  diajak<a title="tanya dokter" href="http://konsultasikesehatan.net/" target="_blank"> </a>berobat ke dokter.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari mana si buah hati  tersebut  mengenal rasa takut? Tentunya dari  sumber media  yang ditangkap panca indranya . Misalnya dari tayangan   televisi,  mendengar dari radio, melihat anak lain yang takut dan juga  ‘ancaman ‘ yang dibuat oleh orang tuanya sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Maksud dari orang tua memberikan pelajaran sehingga mengikuti kemauan  mereka dengan jalan pintas. Misalnya, pada saat menangis si buah hati   ditakuti  dengan,<em>” awas nanti kalau terus menangis akan disuntik Dokter!</em>” Atau, “<em>Kalau tidak makan nanti dipasang infus oleh suster lho!</em>”  Dan sebagainya. Pada saat tersebut mungkin si buah hati akan menuruti  kemauan orang tuanya, tetapi sisi lain alam  bawah sadarnya sudah  terbentuk rasa ketakutan sesuai dengan apa yang diancamkan kepadanya.  Akibatnya, pada saat kejadian sesungguhnya, si buah hati menjadi  benar-benar takut terhadap dokter dan hal yang berhubungan dengannya. Si  buah hati mengalami trauma dengan apa yang di alaminya.</p>
<h3 style="text-align: justify;"><strong>Bagaiman cara mengatasinya?</strong></h3>
<p style="text-align: justify;">Pendekatan kejiwaan anak merupakan salah satu solusi mengatasinya. Si  buah hati yang terlanjur sudah trauma membutuhkan kondisi kejiwaan yang  stabil. Berikut ini tips yang bias dilakukan:<strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Ajak si buah hati berkomunikasi dan bermain peran. </strong>Si  buah hati bisa diajak bermain dokter-dokteran , di mana ia berperan   menjadi dokter. Di saat si buah hati memerankan dokter tersebut, yang  dianggap sosok menakutkan, ajaklah komunikasi dan yakinkan bahwa si buah  hati yang menjadi ‘dokter’ bukan tokoh yang menakutkan</p>
<ul style="text-align: justify;"></ul>
<p style="text-align: justify;"><strong>Belikan mainan yang berhubungan dengan peran dokter.</strong>Seperti stetoskop, baju dokter, dan lain- lain. Dengan menggabungkan  langkah no 1, tentunya si buah hati akan  lebih ‘familiar’ dengan dunia  kesehatan. Pada akhirnya si buah hati menjadi tidak takut pada dokter.</p>
<ul style="text-align: justify;"></ul>
<p style="text-align: justify;"><strong>Belikan buku seri anak  bercerita / mendongeng</strong> yang di dalamnya ada cerita tentang tokoh yang berani berobat ke dokter atau diperiksa oleh dokter.</p>
<ul style="text-align: justify;"></ul>
<p style="text-align: justify;"><strong>Buat si buah hati merasa aman dan nyaman saat berkunjung ke dokter</strong>. Misalnya ia diperkenankan membawa mainan kesukannya, memakai baju  kesukaannya, atau sehabis berobat diajak ke tempat bermain/ makan   kesukaannya.</p>
<ul style="text-align: justify;"></ul>
<p style="text-align: justify;"><strong>Tidak salah juga apabila si buah hati diajak menemani kakak/saudara lainnya berobat</strong> sehingga ia biasa melihat dan mendapatkan informsi  bagaimana menjaga  kesehatan. Misalnya saat pergi ke dokter gigi, maka si buah hati  mendapat pelajaran bagaimana cara menjaga giginya  dan menjauhi permen  atau menghindari makanan dan minuman yang akan membuatnya sakit.</p>
<ul style="text-align: justify;"></ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://goodinfo.tk/supaya-anak-tidak-takut-dokter/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>12 Cara Menangani Emosi Anak</title>
		<link>http://goodinfo.tk/12-cara-menangani-emosi-anak/</link>
		<comments>http://goodinfo.tk/12-cara-menangani-emosi-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Jan 2011 16:03:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Family]]></category>
		<category><![CDATA[Psychology]]></category>
		<category><![CDATA[Child]]></category>
		<category><![CDATA[Emosi]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://goodinfo.tk/?p=283</guid>
		<description><![CDATA[Mendidik anak merupakan pengalaman yang tak terlupakan bahkan akan terus berlanjut. Perlu ketelitian dan ketekunan untuk menghadapi emosi anak yang terkadang membuat orang tua kewalahan. Karena tingkat emosi anak mudah berubah dan sulit ditebak, salah-salah malah bisa melukai persaannya. Berikut beberapa tips-tips dan cara untuk menangani emosi anak :  1. Cara penanganan anak yang nyaman [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft" title="anak" src="http://rdsfmsolo.com/blog/wp-content/uploads/2010/01/hikmah-kekerasan.jpg" alt="" width="260" height="162" />Mendidik anak merupakan pengalaman yang tak terlupakan bahkan akan terus berlanjut. Perlu ketelitian dan ketekunan untuk menghadapi emosi anak yang terkadang membuat orang tua kewalahan. Karena tingkat emosi anak mudah berubah dan sulit ditebak, salah-salah malah bisa melukai persaannya. Berikut beberapa tips-tips dan cara untuk menangani emosi anak : <span id="more-283"></span></p>
<p style="text-align: justify;">1. Cara penanganan anak yang nyaman kepada anak adalah mengkombinasikan ketegasan dan kelembutan kepada anak.</p>
<p style="text-align: justify;">a. Tanyakan langsung apa yang harus dilakukan ketika terjadi masalah.<br />
b. Setelah anak melakukan konsekuensi dari perilakunya dan sudah tenang, persilakan anak untuk mengambil kesimpulan.<br />
c. Berikan ciuman dan pelukan sebagai tanda bahwa masalah sudah selesai.</p>
<p style="text-align: justify;">2. Sikap malu-malu pada anak terbentuk oleh situasi campuran antara ketidaksengajaan (accident) dan pengkondisian (conditioning).</p>
<p style="text-align: justify;">3. Sebaiknya kita tidak mengajarkan anak untuk melakukan sesuatu karena ingin menyenangkan orang lain. Latih anak untuk melakukan sesuatu karena memang ia senang melakukannya bukan karena ingin menyenangkan orang lain. Motivasi yang dibangun adalalah motivasi dari dalam diri (internal) bukan eksternal (karena orang lain atau ada orang lain).</p>
<p style="text-align: justify;">4. Dengarkan anak jika sedang bercerita tanpa memotong pembicaraan, bila sudah berhenti, gali lebih dalam ceritanya.</p>
<p style="text-align: justify;">5. Saat anak sedang mengalami emosi negatif yang bekerja adalah otak reptilnya.</p>
<p style="text-align: justify;">6. Anak perlu dilatih untuk lebih sibuk memperhatikan kemampuannya bukan pada status atau hal lain sehingga ia tidak terbelenggu dengan hal yang sifatnya fisik atau status. Manusia dinilai berdasarkan keimanannya dan apa yang dilakukannya bukan karena yang lainnya.</p>
<p style="text-align: justify;">7. Mengobrol saat makan merupakan sarana efektif sebagai ajang komunikasi, serta alat pemecah belenggu yang cukup efisien.</p>
<p style="text-align: justify;">8. Dengan olahraga anak akan bergerak, dengan bergerak anak akan aktif berpikir, dengan aktif berpikir pasti tidak ada lagi anak yang pendiam, maka di seluruh aktivitas otaknya akan selalu bekerja dan hidupnya akan lebih bersemangat.</p>
<p style="text-align: justify;">9. Mendongeng dijadikan pelajaran untuk anak berekspresi, memahami karakter, serta mampu memaknai sebuah cerita. Ke depannya anak akan mampu menentukan jalan hidupnya.</p>
<p style="text-align: justify;">10. Dengan bermain, anak mempelajari lingkungannya, mendapatkan kesenangan dan penyaluran energi yang berlebih.</p>
<p style="text-align: justify;">11. Anak yang marah sedang berpikir dengan menggunakan otak reptil (yang hanya dapat berpikir dua hal saja,lari/kabur atau melawan). Sedangkan orang tua yang marah-marah pada anaknya juga sedang menggunakan otak reptil. Masalah tidak akan selesai kecuali salah satu yang lebih dewasa menggunakan otak besar (otak yang digunakan untuk berpikir kreatif, kritis, lateral atau menggunakan lebih dari satu sudut pandang).</p>
<p style="text-align: justify;">12. Kecupan dan pelukan adalah perlakuan sederhana kepada anak sebagai rasa cinta dan kasih sayang, juga hadiah termurah yang diberikan tapi sangat tinggi nilainya di mata mereka. Begitulah, karena tak sedikit orang dewasa enggan melakukannya lantaran segan dan malu dilihat orang lain alias gengsi gede-gedean.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://goodinfo.tk/12-cara-menangani-emosi-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Luapkan Saja Kemarahan Anda</title>
		<link>http://goodinfo.tk/luapkan-saja-kemarahan-anda/</link>
		<comments>http://goodinfo.tk/luapkan-saja-kemarahan-anda/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Jun 2010 07:54:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Family]]></category>
		<category><![CDATA[Health]]></category>
		<category><![CDATA[Psychology]]></category>
		<category><![CDATA[Emosi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://goodinfo.tk/?p=145</guid>
		<description><![CDATA[Bagi kebanyakan orang menganggap bahwa marah merupakan hal yang negatif, namun tahukan anda bahwa dengan marah maka kita telah menjaga kesehatan emosional kita karena selain menjaga kesehatan fisik, kesehatan emosional idealnya juga dipelihara. Salah satu caranya adalah dengan meluapkan kemarahan sesekali. Ketimbang dipendam saja, sebaiknya emosi yang tertahan dibiarkan merembes keluar agar tidak terjadi ledakan. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft" title="angry" src="http://www.promotinglinux.com/images/pages/linux/Linux-Babies-Angry.jpg" alt="" width="207" height="233" />Bagi kebanyakan orang menganggap bahwa marah merupakan hal yang negatif, namun tahukan anda bahwa dengan marah maka kita telah menjaga kesehatan emosional kita karena selain menjaga kesehatan fisik, kesehatan emosional idealnya juga dipelihara. Salah satu caranya adalah dengan meluapkan kemarahan sesekali. Ketimbang dipendam saja, sebaiknya emosi yang tertahan dibiarkan merembes keluar agar tidak terjadi ledakan.<span id="more-145"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Para ilmuwan menemukan bahwa meluapkan kemarahan bisa meningkatkan aliran darah ke bagian otak yang berkaitan dengan rasa bahagia. Dalam penelitian yang dilakukan para ahli dari Spanyol diketahui bahwa belahan otak sebelah kiri (hemisfer) lebih terstimulasi saat seseorang sedang marah.</p>
<p style="text-align: justify;">Dr Neus Herrero dari University of Valencia, Spanyol, yang mengetuai penelitian ini, mengatakan, bagian frontalis kiri otak berkaitan dengan emosi yang positif, sedangkan di bagian kanan berhubungan dengan emosi negatif. &#8220;Perubahan aktivitas otak juga terjadi, terutama di bagian frontalis dan lobus temporalis,&#8221; katanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Belahan otak terbagi menjadi empat lobus, yang mengendalikan berbagai aktivitas berbeda. Lobus frontalis (di belakang dahi) pada masing-masing belahan mengatur aktivitas seperti berbicara dan berpikir abstrak.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara itu, lobus temporalis yaitu bagian yang membantu kita bisa mendengar dan mengartikan bunyi serta bertanggung jawab atas memori.</p>
<p style="text-align: justify;">Marah juga memiliki manfaat positif lain, yakni memicu perubahan dalam tubuh yang berfungsi mengontrol kerja jantung dan hormon. Dari hasil pemeriksaan kepada 30 responden diketahui, saat marah terjadi penurunan hormon kortisol dan peningkatan level testosteron.</p>
<p style="text-align: justify;">Akan tetapi, Herro mengingatkan efek negatif dari marah, yakni naiknya tekanan darah. Karena itu, marah akan menjadi luapan emosi yang wajar ketika kita berhasil meluapkannya sesuai dengan porsinya</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://goodinfo.tk/luapkan-saja-kemarahan-anda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

